CeritaRonggeng Dukuh Paruk terjadi sekitar tahun 1950 sampai 1960-an. Latar yang paling sering muncul pada novel ini yaitu desa Dukuh Paruk, Banyumas yang sangat miskin, terpencil, dan selalu ketinggalan Zaman.Ronggeng dijadikan sebagai ciri khas desa ini dan sangat dikenal oleh masyarakat di luar daerah tersebut. Srintil adalah seorang ronggeng yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Wanitadalam Novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Karya Ahmad Tohari Telaah Struktural-Feminisme Lisda Faradila Abstract Karakter wanita sudah sejak lama menjadi pusat perhatian pengarang sastra Indonesia. Novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis. Novel Orang-orang Proyek dan Kaitannya dengan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Analisis Strukturalisme Genetik) ".Skripsi. Jur. Pendidikan Bahasa dan Seni. FKIP. Penelitian ini bertujuan menjelaskan: (1) unsur-unsur pembentuk struktur novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting; (2) persamaan dan perbedaan MamikosFeb 12min read Posted MapelPelajar Tagged Contoh NovelNovel Sejarah Contoh Novel Sejarah Singkat yang Perlu Dibaca Sebelum Menyesal Ada beberapa contoh novel sejarah singkat yang direkomendasikan untuk para pecinta buku sejarah. Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari; 8. Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer; 9. Tenggelamnya Kapal Artikelmakalah tentang Pengertian Novel secara umum, fungsi, tujuan, unsur, jenis, ciri-ciri, contoh dan gambar supaya mudah di pahami. Materi Terbaru Contoh Identifikasi Masalah eIkq. Unsur intrinsik novel merupakan elemen utama yang membentuk karya itu sendiri. Unsur inilah yang membuat karya sastra hadir sebagai karya sastra unsur-unsur secara faktual akan kamu jumpai jika orang membaca karya sastra. Pada umumnya unsur intrinsik ada 8 diantaranya tema, tokoh dan penokohan, alur, latar waktu, latar tempat, gaya bahasa, sudut pandang dan amanat. Kali ini saya akan membahas mengenai unsur intrinsik novel ronggeng dukuh paruk, beserta unsur ekstrinsik nya. Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini. Apa Itu Unsur Intrinsik Novel? Sebelum membahas apa saja unsur intrinsik dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Kamu perlu mengetahui apa itu unsur intrinsik novel. Unsur intrinsik novel merupakan bahan penyusunan karya sastra yang bersumber dari karya itu sendiri. Unsur intrinsik harus ada dalam sebuah karya. Jika salah satu unsur tidak di cantumkan maka tulisan tersebut tidak bisa di sebut karya sastra. Jadi unsur intrinsik novel adalah elemen utama yang membentuk karya itu sendiri. Unsur intrinsik novel secara umum terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Identitas Novel Ronggeng Dukuh Paruk Novel ronggeng dukuh paruk merupakan novel karya dari Ahmad Tohari yang mulai di terbitkan pada tahun 1982. Novel yang memiliki ketebalan 408 halaman juga ukuran 15×21 cm ini di terbitkan oleg PT. Gramedia Pustaka Utama. Novel ini merupakan novel yang bergenre fiksi romantis yang di dalamnya menceritakan latar sejarah bangsa Indonesia dan kebudayaannya. Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Berikut merupakan unsur intrinsik novel ronggeng dukuh paruk, di antaranya adalah 1. Tema Tema yang menonjol dalam novel ronggeng dukuh paruk ini yaitu bertemakan cinta, budaya dan adat istiadat. Novel ini menceritakan tentang adat istiadat dan kebudayaan dan sebuah dukuh yang ada di Banyumas bernama Dukuh Paruk. Selain itu novel ini juga menyelipkan tentang percintaan asmara sang ronggeng dengan pemuda bernama Rasus. 2. Tokoh dan Penokohan Berikut beberapa tokoh yang terdapat dalam novel ronggeng dukuh paruk diantaranya adalah Srintil kecil, ia memiliki sifat yang lucu dan centil. Srinstil dewasa, ia memiliki sifat yang pemilih, penyayang dan juga suka menolong, serta mudah percaya. Rasus kecil, sosok yang tidak sabaran, cerdik, dan emosional. Rasus dewasa, seorang yang pendendam, dan juga pemberani. Warta, ia memiliki sikap pamrih. Darsun, ia sosok yang suka meremehkan sesuatu hal. Sakaraja, ia adalah kakek Srintil yang penyayang, bijaksana dan perhatian. Kartareja, Dukun Ronggeng yang licik dan ambisius. Nyi Kartareja, ia adalah istri kartareja yang sama-sama licik. Sakum, ia merupakan penabuh calung yang buta namun sangat lihai. Santayib, ia merupakan ayah Santayib ia orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak mau disalahkan. Ibu Srintil, ia merupakan sosok istri yang setia. Dower, ia memiliki sikap gigih. Sulam, ia meruapak seseorang yag memiliki sifat perasa. Sersan Slamet, ia baik hati dan tidak memandang rendah orang lain. Kopral Pujo, ia merupakan seseorang yang penakut. Waras, ia merupakan sosok yang seperti anak kecil. Dan masih banyak lagi tokoh lainnya. 3. Alur Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan alur campuran dimana terdapat alur maju dan alur mundur di dalam ceritanya. 4. Latar Tempat Latar tempat yang digunakan dalam novel ronggeng dukuh paruk yaitu Di Duku Paruk Di tepi kampung Di makam Rumah Kartareja Desa Dawuan Pasar Dawuan Rumah Batu/ Markas Tentara Rumah Nenek Rasun Warung lontong Lapangan kecamatan dawuan Alaswangsal Kantor polisi 5. Latar Waktu Latar waktu yang digunakan dalam novel ronggeng dukuh paruk diantaranya adalah Musim kemarau, sebelas tahun yang lalu, agustus tahun 1963, tahun 1964, februari 1966, tahun 1970. 6. Sudut Pandang Ada beberapa bagian sudut pandang yang terdapat dalam novel ronggeng dukuh paruk diantaranya adalah Bagian satu di catatan buat emak, bagian ini menggunakan sudut pandang orang pertama karena menggunakan kata “aku” yang dimana tokoh aku itu adalah Rasus. Bagian 2 lintang kemukus dinihari, bagian ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Di sini menggunakan kata “dia, -nya dan penyebutan nama tokoh” Bagian 3di Jentera Bianglala, sudut pandang yang digunakan dalam bagian ini juga menggunakan sudut pandang orang ketiga juga. 7. Gaya Bahasa Di dalam novel ronggeng dukuh paruk ini ada beberapa menggunakan bahasa jawa dan mantra-mantar Jawa yang tidak ada terjemahannya. Sehingga bagi yang kurang paham akan kebingungan dengan makna di balik kata-kata tersebut. 8. Amanat Jangan melihat orang dengan sebelah mata, namun lihatlah orang dari dalam dirinya. Dan jangan mudah dibodohi dan terhasut oleh orang lain. Ikutilah perkembangan jaman agar tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Unsur Ekstrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Selain unsur intrinsik novel ronggeng dukuh paruk akan dijelaskan juga unsur ekstrinsik novel tersebut yaitu adalah 1. Nilai Keagamaan Novel ini tidak diperlihatkan nilai keagamaan adat di dukuh paruk lebih mempercayai adanya nenek moyang dan hal-hal animisme lainnya. 2. Nilai Sosial Unsur kemasyarakatan lebih cenderung ke arah ronggeng karena segala sesuatu yang berhubungan dengan antar manusia. Lebih mengutamakan ronggeng dan itu merupakan kebanggaan masyarakat di sana. 3. Nilai Ekonomi Di novel ini sering diceritakan kemiskinan masyarakat Dukuh Paruk. Yang digambarkan terletak di tengah-tengah pematang sawah namun kering kerontang. 4. Nilai Budaya Budaya ronggeng merupakan budaya dari khas desa tersebut dan menjadikan suatu kebanggaan masyarakat di sana Akhir Kata Nah, itu dia penjelasan mengenai unsur intrinsik novel ronggeng dukuh paruk beserta unsur ekstrinsiknya. Jika kamu merasa artikel ini sangat bermanfaat yuk share artikel ini di medis sosial kesayanganmu. Rina Arci Hasanah Universitas Singaperbangsa Karawang Dewi Murni Universitas Singaperbangsa Karawang Dian Hartati Universitas Singaperbangsa Karawang Abstract Laju perkembangan teknologi zaman sekarang nampaknya tidak mampu dihentikan. Teknologi mampu menawarkan berbagai platform yang menjadikan media kreasi lebih kreatif inovatif dibidang sastra. Siniar merupakan media baru yang sedang naik daun dan diperkenalkan melalui platform musik Spotify hingga dikenal dengan sebutan podcast. Siniar atau podcast mengemas karya sastra menjadi lebih ringkas dari karya sastra yang tadinya dinikmati dengan cara membaca kini bisa didengar melalui siniar. Terkait kemudahan dalam menikmati sastra apakah siniar bisa menjadi cara yang tepat untuk melestarikan sastra atau justru nantinya akan menurunkan minat baca pembaca karya sastra dan beralih ke siniar. Oleh karena itu perlu adanya kajian tentang perbandingan antara novel Ronggeng Dukuh Paruk dan siniar “Catatan Buat Emak” untuk mengetahui kesesuaian isi antara novel dengan siniar melalui analisis struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejauh mana perbedaan siniar dan novel sehingga mampu mengemas novel yang tebal menjadi sandiwara suara yang ringkas dan menarik minat pendengar. Metode yang peneliti digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Peneliti menguraikan hasil kajian bandingan secara naratif yang berisi hasil analisis struktural antara novel dan siniar. Perbandingan kedua karya akan menghasilkan poin-poin pembeda antara novel dan siniar seperti tema, latar, penokohan, alur, hingga gaya bahasa kedua karya. Selain itu diuraikan juga nilai-nilai perempuan yang terdapat dalam karya sastra seperti a Citra Perempuan dalam Keluarga dan Masyarakat, dan b Peran Perempuan dalam lingkup sosial masyarakat. PDF Bahasa Indonesia How to Cite Hasanah, R., Murni, D., & Hartati, D. 2021. Analisis Struktural Novel ronggeng dukuh paruk Karya ahmad tohari dengan siniar “Catatan Buat Emak” Karya Sutradara Gunawan Maryanto Sebuah Kajian Bandingan. JURNALISTRENDI JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN, 61, 1-13. Tokoh dalam sebuah novel mempunyai peranan penting, para tokoh dapat menjelaskan bagaiamana kejadian dalam sebuah novel 1 Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama, 2012, cet 9, h. 165-166. dipaparkan. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, tokoh utama dalam novel ini adalah Srintil dan Rasus. Mereka mempunyai peranan penting dalam novel, sehingga kejadian dan peristiwa yang terjadi di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk banyak dipaparkan melalui kedua tokoh utama tersebut. a. Srintil Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah Srintil. Srintil adalah seorang yatim piatu, sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak Dukuh Paruk kehilangan ayah- ibu. Sebelum membahas terkait dengan sifat dan karakter Srintil, peneliti terlebih dahulu membahas tentang makna yang terkandung dari nama “Srintil”. Ali Imron Al-Ma’ruf dalam Novi Anoegrajekti menyatakan mengenai makna nama Srintil, meskipun dari namanya terdengar tidak istimewa bahkan terkesan rendah, sebenarnya memiliki makna yang dalam, simbolis, dan filosofis. Nama Srintil memiliki fungsi sebagai identitas seorang perempuan desa juga memiliki fungsi simbolik. Kata “Srintil” dalam bahasa Jawa berarti kotoran kambing yang wujudnya kebulat-bulatan berwarna hijau tua kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Meskipun baunya busuk dan wujudnya menjijikan, “Srintil” dapat menjadi pupuk yang mampu menyuburkan tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya di tanah yang gersang sekalipun. Artinya, meskipun kotoran kambing itu wujudnya menjijikan dan baunya busuk, Srintil tetap dibutuhkan dan dicari oleh manusia. Jadi, nama Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk mengandung makna filosofis yang Begitu kuat pesona ronggeng Srintil bagi masyarakat Dukuh Paruk. Sehingga membuat perempuan atau para istri pun bukannya cemburu atau 2 Novi Anoegrajekti, dkk ed, Ideosinkrasi Pendidikan Karakter melalui Bahasa dan Sastra “Kearifan Lokal pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari”, Yogyakarta Keppel Press, 2010. marah melihat suaminya bertayub, melainkan justru bangga jika suuaminya dapat bertayub dengan Srintil. “Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan. “Jangan besar cakap,” kata yang lain. “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.” “Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok….”3 Nama Srintil sebagai tokoh utama sengaja digunakan pengarang sebagai nama yang memiliki makna simbolik sesuai dengan sifatnya yang khas sebagai ronggeng. Srintil menggambarkan perempuan kelas bawah yang dibutuhkan banyak orang baik laki-laki maupun perempuan karena superior Srintil di kalangan warga Dukuh Paruk yang menganggap bahwa Srintil pembawa berkah dan merupakan titisan dari arwah Ki Secamenggala. Srintil digambarkan sebagai seorang gadis yang bercambang halus di pipi, berambut hitam pekat, kulitnya bersih dan berlesung pipi. Gambaran Srintil yang seperti ini menegaskan bahwa Srintil adalah seorang gadis yang cantik baik untuk ukuran Dukuh Paruk maupun luar Dukuh Paruk. Seperti pada kutipan sebagai berikut “…. Dalam waktu sebulan telah terlihat perubahan pada diri Srintil. Rambutnya yang tidak lagi terjerang matahari menjadi hitam pekat dan lebat. Kulitnya bersih dan hidup. Sisik-sisik halus telah hilang. Pipinya bening sehingga aku dapat melihat jaringan halus urat-urat berwarna kebiruan….”4 Srintil juga digambarkan sebagai ronggeng Dukuh Paruk yang sangat menggoda. Hal ini terlihat dalam kutipan sebagai berikut 3 h. 38. 4 “Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah ke arah Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium pipi. Warta dan Darsun masing- masing mendapat giliran kemudian….Kali ini mereka yang berebut mencium pipi Srintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng….”5 “….Mandilah dengan sabun mandiku. Tak usah bayar bila malam nanti kau bukakan pintu bilikmu bagiku. Nah, kemarilah.” Berkata demikian, tangan Pak Simbar menjulur ke arah pinggul Srintil. Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak menepiskan tangan laki-laki itu. Bangsat!”6 Kutipan di atas menggambarkan karakter Srintil yang menggoda baik sebelum menjadi ronggeng maupun sesudah menjadi ronggeng. Sifat menggoda sangat wajar dimiliki Srintil karena seorang ronggeng memang gerak-geriknya selalu dilihat dan dinilai masyarakat, sehingga jarang menjadi bahan pembicaraan ke mana pun Srintil pergi. Srintil juga digambarkan sebagai seorang ronggeng yang mempunyai pilihan. Srintil memilih untuk menjadi ronggeng untuk menghapus dosa orang tuanya, Santayib, karena telah meracuni warga Dukuh Paruk dengan tempe bongkrek buatannya. Ketika Srintil melaksanakan upacara bukak-klambu Srintil memilih untuk menyerahkan kegadisannya kepada Rasus, kawannya sejak kecil. Hal ini dilakukan oleh Srintil bukan karena materi, melainkan Srintil berhak mempunyai pilihan kepada siapa dia akan menyerahkan kegadisannya pada upacara bukak- klambu, dan Srintil memilih untuk memberikannya kepada Rasus. Seperti pada kutipan berikut “Aku benci, benci. Lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh menolak seperti kau lakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?”7 5 Ibid., h. 14 6 Ibid., h. 83. 7 Ibid., h. 76. Kutipan di atas menjelaskan bahwa Srintil tidak menyukai upacara bukak-klambu, tetapi Srintil memilih untuk menyerahkan kegadisannya dalam bukak-klambu kepada Rasus. Seiring dengan berjalannya waktu, tokoh Srintil mengalami pendewasaan, sehingga Srintil bukanlah seorang ronggeng yang sembarangan. Srintil digambarkan sebagai ronggeng yang cantik, tetapi tetap berwibawa. Seperti pada kutipan berikut “….Dalam waktu sebulan telah terjadi perubahan pada diri Srintil. Rambutnya yang tidak lagi terjerang terik matahari menjadi hitam pekat dan lebat. Kulitnya bersih dan hidup. Sisik-sisik halus telah hilang. Pipinya bening sehingga aku dapat melihat jaringan halus urat-urat berwarna kebiruan. Debu yang mengendap menjadi daki, lenyap dari betis Srintil. Dan kuanggap luar biasa Nyai Sakarya berhasil mengusir bau busuk yang dulu sering menguap dari lubang telinga Srintil.”8 “…Nyai Kartareja kini memanggil Srintil dengan sebutan jenganten atau setidaknya sampean; suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya, kemandirian Srintil telah diakuinya.” “ Semua mata memandang ke arah Srintil. Ini juga peyimpangan. Biasanya Kartareja dan Sakarya berani mengambil keputusan tanpa melihat roman muka Srintil lebih dulu. Tetapi kini bahkan wibawa Srintil mampu mencegah siapa saja yang ingin berkata sugestif. Tiba-tiba mata Srintil memancarkan cahaya kuasa. Wajahnya melukiskan citra keangkuhan.”9 Kutipan di atas, menggambarkan kewibawaan Srintil, dia bukanlah ronggeng sembarangan. Srintil memiliki harga diri yang tinggi untuk ukuran seorang ronggeng. Kewibawaan Srintil bahkan diakui oleh orang- orang di sekitarnya yang selama ini berlaku sembarangan dan tidak menghargai keinginan Srintil. Kejadian keracunan tempe bongkrek yang dilakukan oleh Santayib, orang tua Srintil membuat Srintil harus menerima dosa dan perlakukan yang kurang baik dari warga Dukuh Paruk. Dosa itu kemudian terhapus ketika Srintil dinobatkan menjadi ronggeng. Ronggeng 8 Ibid., h. 36. 9 bagi Dukuh Paruk adalah titisan dari arwah Ki Secamenggala dan dianggap membawa keberkahan. Sehingga, kedudukan Srintil menjadi berubah, orang-orang jadi menyegani Srintil. Kewibawaan Srintil sebagai seorang ronggeng membuat dia menjadi ronggeng yang disegani oleh laki- laki maupun perempuan Dukuh Paruk. Srintil yang dianggap pembawa keberkahan membuat banyak perempuan Dukuh Paruk berusaha sebaik mungkin untuk memanjakan ronggeng cantik tersebut, dan laki-laki Dukuh Paruk berusaha untuk dapat menari atau tidur dengan Srintil. Hal ini membuat kedudukan Srintil menjadi superior di Dukuh Paruk. Warga Dukuh Paruk sangat bangga memiliki ronggeng cantik seperti Srintil. Selain itu, Srintil juga digambarkan sebagai orang yang religius. Hal ini terlihat ketika Srintil tidak pernah lupa ngasrep di hari kelahirannya. Lebih dekat terhadap Tuhan, mematuhi setiap perintah kepercayaannya. Kepribadian Srintil ini terjadi setelah Srintil mengalami masalah yang cukup berat, yakni ketika dia dianggap terlibat oleh PKI yang membuatnya harus terpenjara selama dua tahun. Kejadian itu membuat perubahan yang sangat besar dalam diri Srintil. Srintil sebelum dianggap terlibat kisruh PKI adalah seorang ronggeng yang tenar, cantik, percaya diri, dan berwibawa. Namun, Srintil berubah menjadi pemurung, malu, rendah diri, dan takut terhadap orang-orang di luar Dukuh Paruk setelah Srintil dianggap terlibat dalam kisruh PKI. Srintil menjadi orang yang takut berbuat sesuatu yang dianggap salah dan tidak ingin bertingkah karena merasa malu dirinya telah melakukan kesalahan. Seperti pada kutipan berikut “Jadi Sakarya tidak ikut berhura-hura. Persiapannya menyambut kembali pementasan Srintil lebih ditekankan pada segi kejiwaan. Lebih sering memasang sesaji di dekat makam Ki Secamenggala, lebih banyak terjaga di malam hari serta mengurangi minum-minum. Srintil diperintahkannya dengan sangat ngasrep pada hari kelahirannya.” “Eh lha, Jenganten, Mbok sampean jangan membiarkan diri terkatung-katung. Segala keinginan harus disetiari. Sampean tidak lupa ngasrep pada hari kelahiran?” Srintil diam. “Sampen tidak lupa berpuasa Senin-Kamis?” Srintil masih diam. Oh, kamu, Nyai Kartareja. Jangankan ngasrep dan puasa Senin-Kamis. Setiap saat aku memohon kepada Tuhan, kiranya segera datang laki-laki yang suka mengawiniku….”10 Kutipan di atas menjelaskan bahwa keinginan Srintil sebagai seorang perempuan untuk menjadi perempuan somahan, diperistri, bahagia dalam kehidupan berumah tangga, tetapi karena namanya yang telah tercoreng akibat kisruh PKI membuat Srintil pasrah. Srintil merasa orang- orang menjadi segan mendekati dia, karena takut dianggap terlibat seperti Srintil. Hingga pada akhirnya Srintil merasa dirinya telah diterima kembali dan kesalahannya telah dimaafkan oleh orang-orang setelah Bajus mendekati Srintil. Srintil mulai diterima kembali keberadaannya setelah didekati oleh Bajus, yang bukan karyawan biasa dalam proyek pembangunan irigasi tersebut. Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah Srintil. Srintil merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadia maupun yang dikenai kejadian, dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi di dalam novel senantiasa menghadirkan Srintil. Srintil sebagai tokoh utama sangat menentukan perkembangan alur cerita secara keseluruhan. Selain sebagai tokoh utama, Srintil juga dikatergorikan sebagai tokoh protagonis. Srintil digambarkan sebagai tokoh yang menjadi pusat sorotan dalam kisahan dan memiliki hubungan denga tokoh-tokoh lain di dalam novel. Tokoh Srintil adalah tokoh yang keberadaannya untuk mencapai tujuan yang dalam hal ini adalah menjadi ronggeng untuk 10 menghapus dosa masa lalu kedua orang tuanya dan Srintil menghadapi persoalan-persoalan yang muncul ketika Srintil hendak menjadi seorang ronggeng, seperti harus memendam dalam-dalam perasaannya terhadap Rasus, tidak boleh menikah, dan dianggap sebagai sundal oleh orang luar Dukuh Paruk. Persoalan-persoalan yang dialami oleh Srintil disebabkan oleh tokoh antagonis seperti Nyai Kartareja dan Kartareja yang tidak menyetujui kalau anak asuhnya mencintai Rasus dan memilih berhenti menjadi seorang ronggeng. Srintil dapat pula dikategorikan sebagai tokoh kompleks atau tokoh bulat. Srintil sebagai tokoh mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan sikap. Perubahan ini terkait dengan keterlibatan Srintil dengan tragedi PKI. Sebelum dianggap terlibat PKI, Srintil merupakan tokoh yang berwibawa, percaya diri, dan periang. Namun, setelah dianggap terlibat PKI Srintil menjadi penakut, pemurung, dan pendiam. Perubahan semacam ini jika dikaji secara dalam merupakan hal yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan secara alur dengan relasi sebab akibat. Srintil merupakan tokoh yang mencerminkan kehidupan manusia yang sesungguhnya yang memiliki berbagai kemungkinan mengalami perubahan sikap dalam diri Srintil menyebabkan Srintil dapat dikategorikan sebagai tokoh kompleks. Tokoh Srintil juga dapat dikategorikan sebagai tokoh dinamis karena Srintil mengalami perubahan watak sejalan dengan perkembangan peristiwa yang dikaisahkan di dalam novel. Sikap dan watak Srintil mengalami perkembangan mulai dari awal, tengah hingga akhir cerita sesuai dengan tuntutan logika cerita secara keseluruhan. b. Rasus Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad juga menjadi tokoh yang mempunyai peranan penting seperti Srintil. Rasus digambarkan sebagai seorang anak yang selalu membayangkan sosok Emak dalam diri Srintil. Hal ini dikarenakan Rasus harus kehilangan Emak akibat kejadian tempe bongkrek beberapa tahun silam. Rasus yang menyukai Srintil, selalu menggambarkan Emak seperti Srintil, yang mempunyai cambang halus, dan berlesung pipi. Rasus mengagumi Srintil karena sosok Emak terbayang dalam diri Srintil, sehingga Rasus berusaha untuk selalu melindungi dan menyayangi Srintil, hingga Srintil menjadi ronggeng, bayangan akan Emak dalam diri Srintil telah menghilang. Rasus tetap menyayangi dan melindungi Srintil sebagai kawan lama. Terlebih Sakarya memberikan amanat kepada Rasus untuk menjaga Srintil, sehingga Rasus merasa sangat bersalah karena tidak dapat menjaga Srintil dengan baik hingga akhirnya Srintil mennjadi gila karena dikecewakan oleh Bajus. Rasus sangat marah setelah mengetahui bahwa Srintil menjadi gila. Rasus berusaha untuk membawa Srintil berobat dan berharap Srintil sembuh untuk bisa memperbaiki kesalahannya karena tidak menjaga Srintil dengan baik. Seperti pada kutipan berikut “Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi tergulung dalam baju. Aku merasa lebih baik menyerahkan benda itu kepada Srintil selagi dia tertidur. Ternyata kesan penyerahan semacam itu, dalam. Sangat dalam. Aku sama sekali tidak merasa menyerahkan sebilah keris kepada seorang ronggeng kecil. Tidak. Yang kuserahi keris itu adalah perempuan sejati, perempuan yang hanya hidup dalam alam angan-angan, yang terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur. Tentu saja perempuan yang kumaksud adalah lembaga yang juga mewakili Emak, walau aku tidak pernah tahu di mana dia berada.“11 Keris yang diberikan oleh Rasus kepada Srintil merupakan tanda bahwa Rasus mengagumi Srintil sehingga Rasus ingin melihat Srintil menari di panggung dengan keris yang sesuai dengan tubuhnya. Keris yang diberikan Rasus bernama Kyai Jaran Guyang, pusaka Dukuh Paruk yang telah lama lenyap. Keris itu merupakan keris pekasih yang dulu menjadi jimat para ronggeng. Keris itu yang akan menjadikan Srintil ronggeng tenar. Rasus memberikan sesuatu yang berharga kepada Srintil. 11 Selain itu, Rasus juga digambarkan sebagai orang yang pandai dan selalu ingin tahu. Bermula ketika Rasus merasa kecewa setelah Srintil menjadi Ronggeng. Rasus banyak belajar mengenai dunia baru di luar Dukuh Paruk. Sifatnya yang selalu ingin tahu membuatnya mengetahui banyak hal, mulai dari adat yang berbeda di luar Dukuh Paruk, pengetahuannya semakin bertambah ketika Rasus menjadi tobang dan diajarkan banyak hal oleh Sersan Slamet. Seperti pada kutipan berikut “Berbagai pengetahuan takkan pernah kudapat bila aku tak berkesempatan mengenal Sersan Slamet. Hanya dua bulan aku belajar membaca dan menulis. Sesudah itu aku mulai berkenalan dengan buku-buku yang berisi pengetahuan umum, wayang, buku sejarah, sampai buku-buku yang berisi pengetahuan umum. Seluk- beluk senjata juga kuperoleh dari sersan yang baik itu. Dari namanya seperti Pietro Beretta, Parabellum, Lee Enfield, Thomson, dan sebagainya.”12 Seperti pada kutipan di atas, Rasus digambarkan sebagai orang yang pandai dan serba ingin tahu. Dalam waktu sebentar Rasus dapat belajar banyak hal sehingga dia bisa meneruskan karirnya dan tidak hanya menjadi tobang, yaitu pesuruh tentara yang bertugas membelikan rokok, menyiapkan makanan, dan membersihkan peralatan militer. Selain memiliki kepandaian, Rasus juga digambarkan sebagai orang yang berani. Hal ini terbukti ketika Rasus berani membunuh penjahat yang ingin mencuri harta Srintil di rumah Nyai Kartareja. Seperti pada kutipan berikut “Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika perampok membelakangiku, aku maju dengan hati-hati. Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya 12 sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak mengapa. Senjata yang telah terkokang itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.”13 Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Rasus berani membunuh dua orang penjahat dan karena keberaniannya itu ia menjadi naik pangkat dan tidak lagi menjadi seorang tobang. Dan karena keberaniannya itu pula membuat Srintil menginginkan Rasus untuk menikahinya. Tetapi karena tanggungjawabnya sebagai seorang tentara dan masih ada kekecewaan di dalam hatinya terhadap Dukuh Paruk membuat Rasus pergi meninggalkan Srintil. Selain memiliki sifat yang berani, Rasus juga sangat taat dalam beribadah dan rendah hati. Hal ini terlihat ketika Rasus pulang ke Dukuh Paruk, meskipun dia sudah menjadi tentara, Rasus tetap mengakui orang- orang Dukuh Paruk sebagai saudaranya. Selain itu, Rasus juga sangat rajin sembahyang. Seperti pada kutipan berikut “Sampean bibiku, pamanku, uwakku, dan sedulurku semua, apakah kalian selamat?” kata Rasus kepada semua orang yang ada di sekelilingnya. Namun, sebutan “sedulur” yang diucapkan Rasus dengan tulus malah mengunci semua mulut orang Dukuh Paruk. Mereka terharu masih diakui saudara oleh Rasus yang tentara, yang kuasa menentukan apakah seseorang harus ditahan atau dibebaskan. Lama tak ada yang bersuara sampai terdengar Sakarya terbatuk dari kursinya.” “Rasus tersenyum melihat ulah Nyai Kartareja berjalan cepat dan girang seperti anak kecil. Handuk disampirkannya pada pelepah pisang di halaman. Baju dan celananya diganti, dan menyisir rambut. Sebuah kain sarung digelar di atas tanah dekat lincak. Rasus bersembahyang.”14 Seperti pada kutipan di atas, tokoh Rasus digambarkan sebagai seorang yang rendah hati, meskipun dia sudah merasa tersakiti oleh Dukuh Paruk. Rasus tetap mengakui Dukuh Paruk sebagai kampungnya dan warganya sebagai saudara-saudaranya. Hal ini membuktikan bahwa Rasus tidak menjadi sombong atau lupa diri meski dia telah menjadi seorang tentara. 13 Ibid., h. 101-102. 14 Ibid., h. 257 & 351. Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk memiliki kedudukan sebagai tokoh utama. Seperti halnya dengan Srintil, Rasus juga merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Meskipun demikian, Rasus sebagai tokoh utama tidak selalu muncul dalam setiap kejadian yang terjadi di dalam novel, atau tidak langsung ditunjuk dalam setiap bagian di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, namun ternyata dalam setiap kejadian atau setiap bagian di dalam novel yang tidak menyertakan Rasus. Rasus tetap memiliki keterikatan dengan tokoh utama, Srintil. Misalnya, pada bagian Jantera Bianglala, Rasus sebagai tokoh utama tidak muncul di dalam cerita tetapi tetap dikaitkan dengan konflik batin yang dialami Srintil hingga Srintil menolak untuk naik pentas. Dengan demikian, Rasus dapat dikategorikan sebagai tokoh utama tambahan. Rasus juga dikategorikan sebagai tokoh protagonis. Rasus merupakan tokoh yang menjadi sorotan kedua setelah tokoh Srintil dan memiliki keterikatan dengan tokoh-tokoh lain dalam novel. Kehadiran sosok Rasus memunculkan konflik batin pada Srintil karena Srintil menyukai Rasus dan Srintil ingin dijadikan istri oleh Rasus tetapi Rasus tahu kalau Srintil milik Dukuh Paruk. Konflik yang dialami tokoh Rasus disebabkan oleh tokoh antagonis, Nyai Kartareja dan Kartareja yang tidak menginginkan Rasus menikah dengan Srintil karena takut anak asuhnya berhenti menjadi seorang ronggeng. Selain itu, Rasus juga merasa kecewa dengan adat Dukuh Paruk yang menjadikan ronggeng sebagai milik umum hingga Rasus tidak dapat berteman lagi dengan Srintil yang telah menjadi ronggeng. Dengan persoalan-persoalan yang dialami oleh Rasus, tokoh Rasus dapat dikategorikan sebagai tokoh protagonis. Rasus juga dikategorikan sebagai tokoh kompleks dan dinamis. Rasus mengalami perubahan dan perkembangan sikap dan watak. Perubahan dan perkembangan sikap Rasus terjadi seiring dengan pendewasaan dan berbagai permasalahan yang dialami Rasus sebagai tokoh kompleks dan dinamis. Perubahan dan perkembangan sikap dan watak Rasus terjadi dari awal cerita yang semula Rasusu digambarkan sebagai tokoh yang rendah diri dan bodoh karena kemiskinan yang terjadi di Dukuh Paruk, lalu sikap Rasus berkembang dan mengalami perubahan menjadi tokoh yang pemberani, pandai, dan bertanggung jawab. Perubahan ini terlihat logis seiring dengan berbagai permasalahan yang menimpa Rasus hingga menyebabkan perubahan dan perkembangan sikap Rasus dalam menghadapi berbagai masalah di hidupnya. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini juga didukung oleh kehadiran tokoh-tokoh tambahan yang turut berperan dalam novel ini, di antaranya a. Sakarya Tokoh tambahan dalam Ronggeng Dukuh Paruk salah satunya adalah Sakarya. Sakarya memilki sifat yang taat pada aturan-aturan Unsur intrinsik ronggeng dukuh paruk. Unsur intrinsik adalah sebuah unsur utama yang membangun utuhnya sebuah novel diantaranya yang terdiri dari tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan setiap karya tulis atu buku tulisan sastra seperti novel pasti ada unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung di dalamnya yang di tulis oleh pengarangnya. Misalnya Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang memiliki cerita Dukuh Paruk merupakan novel karya Ahmad Tohari yang berbentuk novel trilogi ronggeng dukuh paruk yang sangat menarik dan terkenal sampai saat ini. Baca Juga Sinopsis novel ronggeng dukuh parukUntuk itu disini gue akan memberikan unsur intrinsik novel ronggeng dukuh paruk karya Ahmad itu langsung saja berikut ini unsur intrinsik dari Novel Ronggeng Dukuh ParukUnsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk1. Tema Novel Ronggeng Dukuh ParukTema yang menonjol dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu bertemakan cinta, budaya, dan adat istiadat. Di mana novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang adat istiadat dan kebudayaan dari sebuah dukuh yang ada di Banyumas yang bernama Dukuh Paruk yang kondang dengan ronggengnya. Di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk juga diselipkan kisah cinta asmara sang ronggeng Srintil yang merupakan tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang menjalin kisah cinta dengan pemuda bernama Alur Novel Ronggeng Dukuh ParukAlur dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk menggunakan alur maju tetapi kadang-kadang disertai flashback yang menceritakan kisah masa lalu, seperti yang menceritakan tentang malapetakan tempe bongkrek sebelas tahun yang Tokoh dan Penokohan Novel Ronggeng Dukuh Paruka. SrintilSrintil kecil - Centil“Ya, benar. Engkau sangat cantik sekali sekarang.” ujar Warta. “Seperti seorang ronggeng?” tanya Srintil lagi. Gayanya dewasa- Pemilih“Aku benci, benci. Lebih baik ku berikan padamu. Rasus, sekarang kamu tak boleh menolak seperti kamu lakukan tadi siang. Disini bukan perkuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?”- Penyayang"Terbukti dari kasih sayang Srintil kepada Goder, anak Tampi yang ia angkat menjadi anak nya"“Keluar dari rumah orang tua aku nya Srintil merasakan suatu hal yang baru; begitu dekat dengan dirinya sendiri. Aku nya sepenuhnya dalam genggaman nya. Aku nya yang terdiri atas dirinya sendiri & seorang bayi dalam pelukan. Hangat tubuh Goder yg melekat didadanya menjadi kehangatan pertama bagi sebuah semangat baru yangg mulai melembaga dlm jiwa Srintil”- Suka menolongDengan kesediaan Srintil menjadi gowok untuk Waras, agar jiwa kelelakiannya Waras muncul. “Nyai, sekarang ajari aku bagaimana menjadi gowok. Ajari aku!”.-Mudah PercayaSrintil percaya jika Pak Bajus, menyukainya dan ingin menjadikan Srintil sebagai istrinya Pak Bajus. Namun dugaan Srintil salah, karena Pak Bajus mendekati Srintil hanya ingin menjualnya kepada Pak Blegur.“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blegur. Percayalah, dia orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa kepadanya, beberapa pun harganya , akan dia kabulkan. Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia. Temailah dia, Srin.”b. RasusRasus kecil-Tidak sabaran“Sudah-sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “-Cerdik “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.”-Emosional“Kartareja memang bajingan. Bajindul buntung,” jawabku, mengumpat dukun ronggeng dewasa-Pendendam“Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepada ku mengisi bagian hati yangg kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, karena sejak peristiwa malam bukak klambu Srintil di seret keluar dari dalam hati ku. Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkan nya”Pemberani“Mengecewakan. Kopral Pujo tidak lebih berani daripadaku. Pada saat itu dia tidak bisa mengambil keputusan. Jadi akulah yang mengambil prakarsa.”c. Warta teman rasus kecil-Pamrih“Ya, kita berhenti dulu. Kita hanya akan bermain lagi kalau Srintil berjanji memberi kami upah”d. Darsun teman rasus kecil-Suka meremehkan“air?” ejek Darsun, anak ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”e. Sakaraja Kakek Srintil dan Nyi Sakaraja Nenek Srintil- Penyayang“Akan kukatakan Srintil tinggal dirumah Kartareja, tiga rumah ke timur dari sini. Tapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu tunggal kami. Ambil hartanya, tapi jangan cederai dia.”f. Kartareja Dukun Ronggeng- Licik“Jangan keliru! Yang asli buat Sulam. Lainnya buat Dower.” Kata Kartareja. Istrinya tersenyum. Walaupun tidak selicik Kartareja, tetapi perempuan itu sudah dapat menduga ke mana maksud tindakan Nyi Kartareja-LicikDengan membantu kelicikan sang suami.“Suami-istri Kartareja masuk ke bilik mereka sendiri. Di sana pasangan tua itu bergurau. Sebuah ringgit emas, 2 rupiah perak, dan seekor kerbau sudah hampir dingan”h. Sakum Penabuh calung yang buta- Hebat“Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara saksama pertunjukan ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang”i. Santayib ayah Srintil- Tidak bertanggung jawab dan tidak ingin disalahkan“Bajingan! Kalian semua bajingan tengik! Betapa pun bongkrekku tak bersangkut-paut dengan malapetaka ini. Lihat! Akan kutelan bongkrek ini banyak-banyak. Kalau ini benar ada racunnya, pasti aku akan segera sekarat”j. Istri Santayib Ibu Srintil- SetiaDengan ikut memakan tempe bongkrek beracun, seperti suaminya.“Dia menoleh istri nya yang semula berdiri di sampingnya, ikut mengunyah bongkrek”k. Dower- GigihSambil mengusap wajahnya yang berkeringat, Dower membuka pembicaraan. “Aku datang lagi kek. Meski bukan sekeping ringgit emas yang ku bawa, ku harap engkau mau menerimanya”l. Sulam- Perasa“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenaliku. Tentu saja aku membawa ringgit emas itu. Bukan rupiah perak, apa lagi se ekor kerbau seperti anak pecikalan ini” Ujar sulam sambil melirik ke arah Sersan Slamet- Baik hati & tidak memandang rendah orang lain“Siapa saja yang punyai cukup tenaga serta kejujuran, dapat melaksanakan tugas sebagai tobang. Tentang tenaga, aku sudah merasa pasti engkau memiliki dengan cukup. Kejujuranmu sudah terpancar dari wajah dan sinar mata mu sendiri. Jadi aku merasa pasti pula kau mampu menjadi seorang tobang”n. Kopral Pujo- Penakut“Seharusnya begitu tetapi jangan gila. Hanya ada sepucuk senjata pada kita. Pada mereka ada lima” ujar Koral Pujo saat melihat para perampok. “Jadi bagaimana? keputusan harus segera kita ambil.” ucap Rasus. “Nanti dulu. Aku mau kencing” jawab Kopral Waras- Seperti anak kecil“Kalau begitu dimana Emak tidur? Dipan itu tidak muat untuk tidur bertiga. Eh, tetapi kita bisa menggelar tikar di lantai. Kita tidur bertiga. Aku ditengah. Emak dan kamu dipinggir. Wah, hebat, kan?”p. Sentika Ayah Waras- Penyayang“Dan tayuban itu khusus bagi si Waras, anak ku yang lelaki satu-satunya itu”q. Nyi Sentika Ibu Waras-Penyayang“Nyai Sentika memeluk dan mengelus Srintil dengan rasa sayang melebihi rasa terhadap anak kandungnya”r. Pak Bakar- Jahat“Ah, tidak sejauh itu. Biarkan papan itu terpasang di sana. Aku takkan mengambilnya. Siapa pun tidak boleh menyingkirkannya. Siapa yang berbuat begitu pasti akan menghadapi kemarahan pemuda-pemuda ku. Nah, kalian tidak ingin melihat kerusakan, bukan?”s. Marsusi- Pendendam“Tentu saja aku ingin membalasnya, bahkan melenyapkannya. Aku tahu betul Srintil menerima semua laki-laki yang datang sebelum diriku demi uang yang tak seberapa atau demi satu dua gram emas. Tetapi dia menampikku, padahal seratus gram kalung emas berbandul berlian yang ku sodorkan kepadanya. Mau disebut apalagi kalau bukan penghinaan yang sebesar-besarnya”- Licik“Di belokkannya motornya ke kiri, masuk ke jalan kecil yang menuju daerah perkebunan karet Wanakeling. Ketika barang yang sangat di inginkannya sudah berada di tangan, mengapa tidak langsung membawanya pulang ke rumah” t. Pak Bajus Orang proyek dari Jakarta- Licik, pembohong, dan penipuPak Bajus awalnya mendekati Srintil hingga Srintil dan orang orang percaya bahwa pak Bajus orang yang baik dan ingin menjadikan Srintil sebagai istrinya. Namun semua itu hanya tipuan semata.“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blegur. Percayalah, dia orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa kepadanya, beberapa pun harganya , akan dia kabulkan. Nanti dia akan bermalam di sini. Temanilah dia. Temailah dia, Srin”u. Pak Blegur Atasan Pak Bajus- Baik“Ya, berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi objek petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang sekali pun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya”- Tidak tegaan“Memang kamu tahu siapa aku. Aku yang senang bertulang. Tetapi entahlah, aku tidak tega memakai Srintil”Baca Juga Analisis novel ronggeng dukuh paruk4. Setting Novel Ronggeng Dukuh Paruka. Latar Tempat Novel Ronggeng Dukuh ParukDukuh Paruk“Dengan daerah pemukiman terdekat, Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir dua kilometer pajangnya. Dukuh paruk, kecil dan menyendiri. Dukuh paruk yang menciptakan kehidupannya sendiri”Di tepi kampung“Di tepi kampung, tiga anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong”Makam“Tengah malam Sakarya keluar menuju makam Ki Secamenggala. Laki-laki itu menangis seorang diri disana”Rumah Kartareja“Aku sendiri hanya maju beberapa langkah dan berteduh di emperan rumah Kartareja”Desa Dawuan“Dawuan, tempatku menyingkir dari Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan”Pasar Dawuan“Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil yang datang berbelanja dengan Nyai Kartareja”Rumah Batu / Markas tentra“Pekerjaan ku mulai. Peti-peti logam serta barang berat lainnya kuangkat di atas pundak dan kubawa ke sebuah rumah batu yang ternyata telah dipersiapkan sebagai markas tentara”Rumah nenek Rasun“Selagi orang-orang Dukuh Paruk mengerumuni rumah Kartareja, aku duduk berdekatan dengan Srintil di beranda rumah nenekku sendiri”Warung lontong“Perempuan-perempuan itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk satu lincak bersama perempuan pemilik warung”Lapangan Kecamatan Dawuan“Perayaan Agustussan tahun 1963 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan”Alaswangsal“Hampir tengah hari ketika rombongan dari dukuh paruk memasuki kampung Alas wangsal”Kantor polisi“Sampai di depan kantor yang di tuju Kartareja berhenti termangu. Jelas sekali keraguannya. Tapi Srintil terus melangkah”b. Latar Waktu Novel Ronggeng Dukuh ParukMusim Kemarau”Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang”Sebelas tahun silam“Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan lebat” Agustus Tahun 1963“Perayaan Agustussan tahun 1963 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan”Tahun 1964“Tetapi pada tahun 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng Dukuh Paruk malah sering naik pentas”Februari Tahun 1966“Tengah malam Februari 1966 di sebuah kota kecil di sudut tenggara Jawa Tengah. Kegelapan yang mencekam telah berlangsung setengah tahun lamanya”Tahun 1970“Memasuki tahun 1970 kehidupan di wilayah Kecamatan Dawuan berubah gemuruh oleh deru truk-truk besar berwarna kuning serta buldoser dari berbagai jenis dan ukuran”c. Latar Suasana Novel Ronggeng Dukuh ParukHaru“Seorang perempuan mengisak. Rasa harunya setelah melihat Srintil menari menyebabkan air matanya menetes”Tegang“Kang, orang-orang itu geger. Banyak tetangga yang sakit dan pingsan. Ini bagaimana, Kang?”Sedih“Laki-laki itu menangis seorang diri di sana. Dalam kesedihan nya yang amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada moyang orang Dukuh Paruk”Tegang dan mencekam“Irama calung kembali menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua orang percaya akan kata Sakarya bahwa Kartareja sedang di rasuki arwah leluhur. Maka mereka mundur dalam suasana tegang”Kecewa“Dalam wawasan ini, Srintil tidak bisa melihat beda antara dua wajah laki-laki itu. Semuanya mengecewakanya, semua merangsang Srintil membuat suatu perhitungan”5. Sudut Pandang Novel Ronggeng Dukuh Paruka. Bagian I Catatan Buat EmakSudut Pandang Orang PertamaNovel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 1 menggunakan sudut pandang orang pertama, karena menggunakan kata “Aku”, yang di mana tokoh “Aku” adalah Rasus.“Aku sendiri, kata nenek, selamat secara kebetulan”b. Bagian II Lintang Kemukus DinihariSudut Pandang Orang KetigaNovel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 2 menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena menggunakan kata “Dia, -nya, dan penyebutan nama tokoh”“Srintil cepat bangkit dan menoleh ke belakang. Didapatinya dirinya tak berteman di dalam bilik yang lenggang itu. Mula-mula ia menduga, atau berharap, rasus masih berada di sekitar rumah, sedang berhajat di belakang misalnya”c. Bagian III Jentera BianglalaSudut Pandang Orang KetigaNovel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 3 menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena menggunakan kata “Dia, -nya, dan penyebutan nama tokoh”“Dan Rasus yang dikawal Sersan Pujo mengayunkan langkah pertama menginjakkan kaki diatas tanah kelahirannya”6. Gaya Bahasa Novel Ronggeng Dukuh ParukDi dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk ini ada beberapa yang menggunakan bahasa Jawa dan mantra-mantra jawa yang tidak ada terjemahannya. Seperti kata-kata Niyatingsun matak aji pamurung, Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung, Ditaburan boeh sna, manci rasa marang, Srintil marang Rasus, Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening, Eyang Secamenggala7. Amanat Novel Ronggeng Dukuh ParukDi dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk pengarang ingin menyampaikan bahwa jangan melihat orang dengan sebelah mata, namun lihat orang dari dalamnya. Juga jangan mudah dibodohi dan terhasut orang lain. Untuk itu ikutilah perkembangan jaman agar tidak mudah dibodohi oleh orang itulah unsur intrinsik singkat novel Ronggeng Dukuh Paruk yang mungkin bisa membantu kalian untuk menanbah pengetahuan atau mengerjakan tugas untuk menjawab pertanyaan yang di berikan oleh novel ronggeng dukuh paruk untuk mengetahui kisah lengkapnya yang memiliki cerita yang menarik dan patut di ikuti. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari juga sudah di adaptasi menjadi film yang berjudul Sang cintaningmega blogspotBaca Juga Unsur Intrinsik Novel Layar terkembang karya Sutan Takdir AlisjahbanaMakalah Tentanag Segitiga BermudaUnsur Ekstrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kehidupan di desa kecil bernama Dukuh Paruk. Diceritakan dalam novel, kebudayaan ronggeng secara mendetail yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca. Penulis menggambarkan cerita sesuai dengan realita yang terjadi di tahun tersebut. Perpaduan budaya dengan fiksi membuat buku ini semakin bagus. Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun resensi novel Ronggeng Dukuh Paruk lengkap sebagai berikut 1. Identitas Novel Ronggeng Dukuh Paruk Judul NovelDukuh ParukPenulisAhmad TohariJumlah halaman408 HalamanUkuran buku15 cm x 21 cmPenerbitGramedia Pustaka UtamaKategoriBuku FiksiTahun Terbit1982 2. Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk Sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kehidupan di dukuh kecil dan terpencil. Dulunya, Dukuh Paruk memiliki nenek moyang yang menjadi orang kepercayaan masyarakat. Setelah nenek moyangnya meninggal, penduduk desa Dukuh Paruk masih memujanya dengan cara memuja kuburannya. Bahkan, kuburan nenek moyangnya dijadikan sebagai kiblat kebatinan kepercayaan mereka. Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu Srintil. Ia adalah sesosok gadis kecil yang berusia sebelas tahun. Tetapi, ia mempunyai masa lalu yang menyedihkan. Meski begitu, Srintil mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Srintil dapat menari seperti seorang ronggeng. Di suatu waktu terdapat tiga anak laki-laki yang mencabut batang singkong di tanah kapur yaitu Warta, Dasun, dan Rasus. Sesudah berhasil mencabut singkong, mereka mengupasnya dengan gigi. Sekita, mereka terkesima melihat Srintil yang sedang mendendang sambil menari dengan sangat asyik. Ketiga lelaki itu kemudian ikut menari bersama Srintil. Srintil tinggal bersama kakeknya yang bernama Sakarya. Beliau sangat menyayangi cucunya itu, terlebih saat orangtuanya Srintil meninggal. Kakeknya yang merawat Srintil. Saat itu, Sakarya juga mengikuti gerakan Srintil sangat menari, sungguh Kakek sangat bangga saat melihat cucunya menari dengan gemulainya. Kakeknya pun berpendapat bahwa Srintil sudah dirasuki oleh Indang Ronggeng. Keesokan harinya Kakek menemu dukung ronggeng di Dukuh Paruk yaitu Kertareja. Mereka membicarakan kepandaian Srintil dalam menari dan menyanyi ronggeng. Dalam waktu beberapa hari Kartareja dan Sakarya selalu mengikuti Srintil. Kemudian, mereka mengintip Srintil yang sedang menari di bawah pohon nangka. Kemudian, Kakek Sakarya menyerahkan Serintil kepada Kertareja sebagai salah satu syarat perihal menjadi calon ronggeng di Dukuh Paruk. Sejak dua belas tahun yang lalu, Ronggeng Dukuh Paruk sudah mati. Banyak perkakas untuk mengiringi pementasan ronggeng yang sudah hampir rusak. Kini, pementasan ronggeng dimulai kembali dengan penari baru yaitu Srintil. Saat pementasan Srintil didandani oleh Nyi Kertareja, alhasil Srintil tampil layaknya ronggeng. Tidak lupa, Nyi Kertareja meniupkan mantra ke pekasi ubun-ubun Srintil. Mantra tersebut bertujuan untuk memberikan aura kecantikan kepada Srintil. Selain itu, Nyai Sakarya juga memasangkan susuk emas di tubuh Srintil. Masyarakat Dukuh Paruk sangat antusias menonton ronggeng, Kartareja bersuara bahwa akan diadakan pertunjukan ronggeng. Dengan suara gemuruh warga, Srintil melenggak lenggok selayaknya seorang ronggeng. Srintil menunjukan penampilan yang sangat apik dengan kemampuan menarinya yang memang sangat gemulai, berbeda dari penari lainnya. Rasus ikut menonton pertujuan Srintil menari. Sebagai sahabatnya sejak kecil, Rasus memang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Srintil. Kini, ia mulai merasa bahwa Srintil sudah tidak memperhatikan Rasus lagi. Rasus menyadari bahwa Srintil tidak akan menjadi miliknya seutuhnya karena Srintil menjadi milik orang banyak untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk agar kebudayaan di desa kecil ini tidak hilang. Akhirnya, Rasus pun memberikan keris kyai Jaran Guyang kepada Srintil agar ia memang menjadi seorang ronggeng yang seutuhnya. 3. Kelebihan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Kelebihan novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu memuat banyak sekali nilai-nilai moral untuk para pembacanya. Penulis Ahmad Tohari mengkisahkan nilai kemanusiaan untuk menghormati perempuan. Dengan menggambarkan tokoh utama Srintil sebagai sisi semangat perempuan untuk keluar dari hitamnya zaman saat itu. Dimana saat itu, perempuan harus diperbudak untuk memenuhi hawa nafsu lelaki. Perempuan juga dikekang dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Selain itu, penulis juga menggambarkan tokoh perempuan dengan sangat detail dari segala bentuk kesengsaraan yang dialami perempuan di jaman itu. Kelebihan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk juga mengajarkan pembaca untuk selalu mengingat sejarah di masa lalu. Sejarah tidak selalu bernilai bagus sehingga sejarah yang buruk tidak sebaiknya diulang di masa kini dan masa depan. 4. Kekurangan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun kekurangan dalam sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu penulis menceritakan isi novel dengan cukup bertele-tele. Kemudian sisipan suasana di desa juga diceritakan sangat detail, tetapi keluar dari alur cerita novel. Dengan begitu cerita novel memang menjadi tidak konsisten bahkan jenuh untuk dibaca. Penulis juga cukup banyak menggunakan kata-kata kasar yang seronok sehingga kurang pas saat novel ini dijadikan bahan bacaan edukasi. 5. Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Berikut ini unsur intrinsik novel Ronggeng Dukuh Paruk yang membangun cerita menjadi lebih menarik. Tema Tema dalam novel Ronggeng Dukuh paruk yaitu kebudayaan. Menceritakan kehidupan ronggeng secara mendetail yang memang menjadi adat kebudayaan di desa Dukuh Paruk. Tokoh Srinti, sabar dan mempunyai semangat penyayang dan keras dan Sakarya, penyayang, sabar, dan penyayang dan Kertareja, licik dan lelaki hidung baik dan bijaksana. Latar Tempat Dukuh Srintil. Alur Alur dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu alur campuran. Penulis menggambarkan cerita melaju ke masa depan dan masa lalu. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini yaitu orang pertama serba tahu. Ditandai dengan adanya penggunaan kata “aku” di dalam novel. Amanat Amanat yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu sebagai seorang perempuan harus menjaga kesuciannya sebelum menikah. Sebagai umat manusia yang berketuhanan maka sebaiknya mempercayai adanya Tuhan, bukan hal-hal yang bersifat negatif dan tahayul. Apabila kita mempunyai keterbatasan pemahaman maka hidup kita tidak akan maju. Penulis juga menuliskan amanat untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Diksi Penulis menggunakan diksi yang sederhana dan ringan, seperti bahasa sehari-hari. Tetapi, terdapat juga penggunaan majas Simile sehingga membuat bahasa dalam novel semakin bagus. 6. Unsur Ekstrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk Adapun unsur ekstrinsik novel Ronggeng Dukuh Paruk yang membuat ceritanya semakin bagus. Nilai Politik Nilai politik yang tersirat dalam cerita novel yaitu keprihatinan dengan sikap kesewenangan kekuasaan orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam menindas masyarakat kecil. Nilai Sosial Tersirat pula nilai sosial dalam novel yang memberikan pemahaman bahwa kesadaran seseorang terhadap nilai kemanusiaan masih kurang. Sesama manusia tentu kita harus saling menghargai. Nilai Ekonomi Nilai ekonomi yang terdapat dalam novel yaitu menggambarkan kehidupan kemiskinan yang terjadi di daerah terpencil. Daerah tersebut membutuhkan perhatian dari pemerintah. Nilai Moral Nilai moral yang tersirat dalam novel yaitu janganlah sombong saat kita sudah sudah, jangan melakukan hal yang tidak baik untuk mencapai kesuksesan. 7. Pesan Moral Novel Ronggeng Dukuh Paruk Pesan moral yang tersirat dalam sinopsis novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu sebagai seorang wanita kita harus mempunyai harga diri yang tinggi. Kebudayaan di jaman dahulu memang bagus dan tidak boleh dihilangkan, tetapi ambilah hal yang positif dan buang hal-hal yang bersifat negatif.

struktur novel ronggeng dukuh paruk